Reformasi Pemikiran Orang Desa
Dede Samsudin
24 juni 2015
|
Pikiran
manusia
|
Reformasi
pemikiran perlu dilakukan sebelum mengubah banyak hal tentang diri dan
lingkungan kira. Ternyata, begitu sulit membangun kehidupan di pedesaan ketika
orang desa sendiri masih menggunakan pemikiran lama sebagai tolak ukurnya.
Sebagai contoh, ketika orang desa masih beranggapan bahwa menjadi
karyawan/bekerja lebih baik daripada berwirausaha maka sepertinya sulit untuk
diajak mengembangkan desanya menjadi desa mandiri. Masih saja ada
ketergantungan penduduk desa kepada penduduk kota yang begitu besar .
Selain
itu, diantara pemikiran lama yang sepertinya harus diubah adalah bagaimana
orang desa menyadari alam sebagai limpahan karunia. Orang desa belum menyadari
sepenuhnya bahwa Alloh SWT telah menjadikan desa tempat kelahirannya sebagai
rizki tak ternilai. Apabila pemikiran itu belum ada maka jangan aneh kalau
orang desa belum memiliki rasa percaya diri dan kurang bersyukur atas anugerah
alam yang diberikan-Nya.
Sering
kita mendengar suara keputusasaan orang desa akan kondisi desanya sendiri.
Kecendrungan wilayah pedesaan yang kurang tersentuh pembangunan dijadikan
kambing hitam atas 'ketidakberuntungan' tinggal di desa. Suara-suara
keputusasaan ini jelas harus hilang dalam benak orang desa karena Alloh sudah
melimpahkan 'segalanya' bagi orang desa.
Energi
negatif yang ada dalam diri orang desa seyogyanya bisa sirna dengan asupan ilmu
pengetahuan tanpa henti. Ada banyak bukti bagaimana ilmu pengetahuan memompa
semangat dan kepercayaan diri manusia. Dengan ilmu pengetahuan, orang
bisa mengubah dunia. Apalagi 'sekedar' mengubah desanya menjadi lebih baik
untuk kehidupan sejahtera di masa depan.
Sebagai
orang desa, pencarian
makna dalam diri harus dimulai terlebih dahulu sebelum membangun desanya. Ada
banyak teori, program dan anjuran para akademisi untuk membangun desa
secara fisik. Apa yang saya rasakan, ternyata pembangunan fisik itu sulit
berjalan ketika orang desa sendiri belum memiliki makna hidup sebagai orang desa.
Makna disini maksudnya adalah bagaimana orang desa punya keteguhan hati dan
keinginan kuat untuk menjadikan desanya maju dan sejahtera.
Keinginan yang kuat itu
tidak datang begitu saja tetapi tentu saja melalui proses pendidikan formal
ataupun informal. Selayaknya anak-anak di pedesaan diajak dan diajarkan untuk
menjadikan desanya laboratorium kehidupan yang sebenarnya. Segala aktifitas
terpusat di sana. Mereka mengacu kepada bagaimana mereka menjadikan masa depan
desa lebih baik dan lebih baik lagi. Terkadang, anak desa diajari 'teknologi
terkini' tetapi tidak diajari bagaimana hidup 'survival' di desanya
sendiri. Imajinasi mereka dijejali kemajuan kota bukan kemajuan desanya
di masa depan.
Rancangan desa di masa depan
memang sudah disosialisasikan kepada generasi muda sejak awal. Ketika saat ini
desa masih hamparan tanah yang kurang produktif maka para anak muda sudah
memiliki 'gambaran utuh' tentang situasi masa depan desanya. Peran orang tua
sangat dominan disini. Orang tua harus tegas menceritakan cita-cita
mereka kepada anak-anaknya ingin seperti apa kehidupan desanya ketika terjadi
pergantian generasi. Jangan sampai anak muda pedesaan tidak memiliki cita-cita.
Hal yang justru terjadi adalah adanya 'rantai yang hilang' antara cita-cita
orang tua dan anak-anaknya.
Cita-cita orang tua bisa
tergambar dalam bentuk lisan maupun tulisan. Saya memahami cita-cita orang tua
saya dari lisan kemudian saya gambar dalam sehelai kertas. Saya menggambar
rumah, kandang ayam, kandang domba, kolam ikan dsb. Sehingga tergambar secara
jelas apa yang harus saya lakukan kini dan nanti. Kami bekerja sama menggapai
cita-cita bersama. Alhamdulillah, pelan tapi pasti satu-persatu kami dapat
menyelesaikan proyek rumah tangga dan merasakan hasilnya dalam waktu dekat.
Kerjasama antara anak dan
orang tua adalah bentuk interaksi alami baik ditinjau dari aspek sosiologis
maupun biologis. Sebagai makhluk hidup, interaksi ini memiliki makna
mendalam karena melibatkan emosional. Ikatan fisis antara keduanya begitu
melekat. Energi yang memancar dari pemikiran dan perilaku anak dan orang
tua begitu dahsyat karena adanya gelombang elektromagnetik antara dua atau
lebih manusia di dalamnya.
Pola interaksi ini yang
sering tidak disadari oleh masyarakat desa. Para orang tua justru menjauhkan
anak-anaknya dari desanya sendiri. Tradisi merantau dan membangun kehidupan
sendiri seakan sudah melekat dalam pemikiran kita. Akhirnya, pembangunan desa
terbengkalai karena setiap orang memiliki cita-cita yang berbeda. Anak dan
orang tua berbeda keinginan dan gambaran akan masa depan yang mapan. Cita-cita
lama tidak terlaksana dan hilang ditelan zaman. Cita-cita yang baru belum tentu
tercapai. Dan begitu seterusnya, berulang tapi tidak berkesinambungan.
Pembangunan yang
berkesinambungan adalah pembangunan desa yang seharusnya. Itu memerlukan waktu
yang tidak sebentar bahkan antar generasi. Pembangunan yang
berkesinambungan tidak terlaksana mungkin karena generasi selanjutnya tidak
tahu apa dan bagaimana cita-cita generasi sebelumnya. Untuk itu, dokumentasi
menjadi sangat penting untuk memahami pemikiran masing-masing. Dan itu
kelemahan kita. Masyarakat kita tidak punya kebiasaan untuk menuangkan
pikiran dalam bentuk tulisan maupun lukisan. Makanya, saya memulai kebiasaan
itu dengan menuliskan di buku catatan harian saya yang berisi pemikiran dan
cita-cita masa depan. Ada juga yang dilukis dan didokumentasikan walupun bukan
lukisan rapi tidak setidaknya pokok pikirannya dapat dipahami oleh pembacanya.
Sudah menjadi kelemahan
bangsa ini ketika kita malas membaca. Kegiatan membaca banyak buku, koran dan
media massa lainnya jelas akan mempengaruhi jalan pikiran yang tertuang dalam
tulisan kita. Semakin banyak wawasan kita tentang dunia ini maka akan semakin
tinggi pula cita-cita yang kita miliki untuk generasi masa depan. Ilmu memegang
peranan kunci kemajuan manusia. Ilmu pengetahuan bisa menerawang masa depan
bahkan menciptakannya. Ada pendapat bahwa cara termudah untuk memprediksi masa
depan adalah dengan menciptakannya.
Menciptakan masa depan yang
lebih mapan tentu saja perlu perencanaan yang sistematis. Meskipun tidak harus
formal, rencana sistematis itu perlu supaya kita dan orang disekitar kita terus
berjalan pada 'rel' yang sebenarnya. Rel yang kita sepakati bersama sejak awal
bukan rel yang membawa kita pada kesengsaraan dan kehidupan yang tidak menentu.
Kesepakatan itu terlaksana ketika semua orang secara sadar terjun langsung
menjalankan apa yang telah dimulai. Bukan sebaliknya, setiap generasi memulai
kembali dari awal.
Pelaksanaan yang Baik Diawali dengan Perencanaan yang Baik
Orang desa sepertinya tidak
biasa merencanakan usahanya _bahkan hidupnya_ sejak awal. Saya memperhatikan
situasi di desa tempat saya tinggal. Ada istilah bahwa hidup itu mengalir
begitu saja. Begitu sering saya perhatikan para petani di desa yang tidak
mengalami perkembangan padahal dia bisa melakukannya jika ada kemauan dan
usaha. Atau, para pedagang yang berjualan 'sekedarnya' saja padahal dia bisa
memutar otak untuk menjalankan berbagai strategi bisnis. Hingga saat ini saya
belum faham betul apa yang ada dalam pikiran mereka.
Untuk menjawab itu, saya
memberanikan diri untuk terjun secara langsung sebagai 'orang desa tulen'. Saya
bertani, tidak pergi ke kota dan mulai berinteraksi dengan mereka secara alami.
Anggap saja ini sebagai penelitian berperan serta dimana teorinya saya
temukan di bukunya Dr. Deddy Mulyana M.A., Metode Penelitian Kualitatif. Ada
beberapa jawaban yang mulai bermunculan untuk menjawab apa yang dalam pikiran
orang desa. Salah satu jawaban itu adalah bahwa ternyata orang desa tidak biasa
merencanakanan usahanya dalam jangka panjang.
Alur jawaban seperti
demikian, orang desa tidak merencanakan usahanya karena mereka tidak punya
mimpi tentang masa depan usahanya. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki
cita-cita untuk mengembangkan usahanya lebih lanjut. Dalam artian, usahanya
saat ini sekedar untuk menutupi biaya hidup dalam jangka pendek. Bagi mereka,
mencari uang cukup untuk sandang, papan, pangan, pendidikan anak-anak, sudah
begitu saja.
Ketika melihat kenyataan
ini, saya mulai mencoba menggali benang merah antara impian, rencana dan
hasilnya di masa depan. Impian atau cita-cita masa depan sebaiknya
dimanifestasikan dalam rencana tertulis atau tidak tertulis supaya dapat
dipetik hasilnya nanti oleh beberapa generasi mendatang. Saya selalu ingin tahu
apa impian orang tua saya dan generasi sebelumnya dengan terus melakukan
'wawancara informal'. Ketika saya tahu impian orang tua saya maka saya
coba menyusun rencana tertulis/terlukis dan mulai melaksanakannya. Walaupun hasilnya
belum terasa seratus persen tetapi saya mulai melihat perbaikan kecil pada
kehidupan kami sekeluarga. Kandang-kandang ternak mulai tertata rapi, kolam
ikan diperluas bahkan kami sudah berencana untuk menjadikan rumah kami sebagai
'gudang pangan' warga yang membutuhkan.
Buat saya ini kemajuan luar
biasa. Hal sederhana dimana siapa pun bisa melakukannya. Tapi, kenapa orang
lain tidak melakukannya. Sedikit sekali orang yang mau meneruskan
cita-cita orang tuanya demi kemajuan desanya. Mungkin, keengganan ini terjadi
karena tidak singkron antara cita-cita orang tua dan kemauan generasi
penerusnya. Untuk itu, saya mencoba mengajak kepada siapa pun untuk mencoba
berpikir tradisional-rasional. Berpikir tradisional artinya masih
menggunakan pola pikir lama untuk kemajuan desa yang kita cintai. Berpikir
rasional artinya tidak menggunakan perasaan atau egois dalam menentukan sikap
tetapi mengambil manfaat dari pemikiran orang tua kita. Saya menggunakan pola
pikir itu. Apa yang saya lakukan adalah hal yang sama dengan apa yang orang tua
saya lakukan dulu. Saya hanya meneruskannya dan mengambil manfaatnya dengan
maksimal lebih dari apa yang dicaapai orang tua saya dulu. Walaupun kita
memiliki rencana pribadi yang ingin diraih, tetapi apa salahnya menjadikan
rencana lama orang tua kita sebagai referensi kehidupan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar